Schistosomiasis / Demam Keong

Schistosomiasis atau disebut juga demam keong merupakan penyakit parasitik yang disebabkan oleh infeksi cacing yang tergolong dalam genus Schistosoma.
Schistosomiasis (bilharziasis) adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing pipih (cacing pita). Ini seringkali menyebabkan ruam, demam, panas-dingin, dan nyeri otot dan kadangkala menyebabkan nyeri perut dan diare atau nyeri berkemih dan pendarahan.
Schistosomiasis
Schistosomiasis mempengaruhi lebih dari 200 juta orang di daerah tropis dan subtropis di Amerika Selatan, Afrika, dan Asia. Lima jenis schistosoma yang paling menyebabkan kasus pada schistosomiasis pada orang:

Schistosoma hematobium menginfeksi saluran kemih (termasuk kantung kemih)
Schistosoma mansoni, Schistosoma japonicum, Schistosoma mekongi, dan Schistosoma intercalatummenginfeksi usus dan hati. Schistosoma mansonimenyebar luas di Afrika dan satu-satunya schistosome di daerah barat.

Di Indonesia, schistosomiasis disebabkan oleh Schistosoma japonicum ditemukan endemik di dua daerah di Sulawesi Tengah, yaitu di Dataran Tinggi Lindu dan Dataran Tinggi Napu. Secara keseluruhan penduduk yang berisiko tertular schistosomiasis (population of risk) sebanyak 15.000 orang.

Penelitian schistosomiasis di Indonesia telah dimulai pada tahun 1940 yaitu sesudah ditemukannya kasus schistosomiasis di Tomado, Dataran Tinggi Lindu, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah pada tahun 1935. Pada tahun 1940 Sandground dan Bonne mendapatkan 53% dari 176 penduduk yang diperiksa tinjanya positif ditemukan telur cacing Schistosoma
Schistosomiasis adalah infeksi yang disebabkan oleh sejenis cacing trematoda baik oleh cacing jantan maupun cacing betina yang hidup dalam pembuluh darah vena mesenterica atau pembuluh darah vena kandung kemih dari inang selama siklus hidup bertahun-tahun. Telur membentuk granulomata dan jaringan parut pada organ dimana telur diletakkan.
Di dunia terdapat empat spesies Schistosoma yang merupakan penyakit parasitik pada manusia, yaitu :Schistosoma haematobium, S. mansoni, S. japonicum dan S. mekongi.
Infeksi didapat melalui air yang mengandung bentuk larva yang berenang bebas (serkaria) yang sebelumnya berkembang di tubuh keong. Telur S. haematobium dikeluarkan dari tubuh mamalia, umumnya melalui urin, sedangkan spesies lain melalui feces. Telur menetas di air dan melepaskan larva (mirasidium) memasuki tubuh keong air tawar yang cocok sebagai inang. Setelah beberapa minggu, serkaria muncul dari keong dan menembus kulit manusia, biasanya ketika orang sedang bekerja,berenang atau melintasi air, serkaria kemudian memasuki aliran darah, dibawa ke pembuluh darah paru berpindah ke hati, berkembang menjadi matang dan migrasi ke pembuluh darah vena di rongga perut.
Bentuk dewasa cacing S. mansoni, S. japonicum, S. mekongi, S. mattheei dan S. intercalatum biasanya tinggal di vena mesenterika; S. haematobium biasanya berpindah melalui anastomosis dari vena dan sampai pada plexus dari kandung kemih. Telur cacing diletakkan pada venulae dan kemudian lepas masuk ke rongga usus besar, kandung kemih atau organ lain termasuk hati dan paru-paru.

Schistosomiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit schistosoma, yaitu sejenis parasit berbentuk cacing yang menghuni pembuluh darah usus atau kandung empedu orang yang dijangkiti.

Schistosomiasis diperoleh dari berenang, menyeberangi, atau mandi di air bersih yang terkontaminasi dengan parasit yang bebas berenang. Schistosomes berkembang biak di dalam keong jenis khusus yang menetap di air, dimana mereka dilepaskan untuk berenang bebas di dalam air. Jika mereka mengenai kulit seseorang, mereka masuk ke dalam dan bergerak melalui aliran darah menuju paru-paru, dimana mereka menjadi dewasa menjadi cacing pita dewasa. Cacing pita dewasa tersebut masuk melalui aliran darah menuju tempat terakhir di dalam pembuluh darah kecil di kandung kemih atau usus, dimana mereka tinggal untuk beberapa tahun. Cacing pita dewasa tersebut meletakkan telur-telur dalam jumlah besar pada dinding kandung kemih atau usus. Telur-telur tersebut menyebabkan jaringan setempat rusak dan meradang, yang menyebabkan borok, pendarahan, dan pembentukan jaringan luka parut. Beberapa telur masuk ke dalam kotoran(tinja)atau kemih. Jika kemih atau kotoran pada orang yang terinfeksi memasuki air bersih, telur-telur tersebut menetas, dan parasit memasuki keong untuk mulai siklusnya kembali.

Schistosoma mansoni dan schistosoma japonicum biasanya menetap di dalam pembuluh darah kecil pada usus. Beberapa telur mengalir dari sana melalui aliran darah menuju ke hati. Akibatnya peradangan hati bisa menyebabkan luka parut dan meningkatkan tekanan di dalam pembuluh darah yang membawa darah antara saluran usus dan hati (pembuluh darah portal). Tekanan darah tinggi di dalam pembuluh darah portal (hipertensi portal) bisa menyebabkan pembesaran pada limpa dan pendarahaan dari pembuluh darah di dalam kerongkongan.

Telur-telur pada schistosoma hematobium biasanya menetap di dalam kantung kemih, kadangkala menyebabkan borok, ada darah dalam urin, dan luka parut. Infeksi schistosoma hematobium kronis meningkatkan resiko kanker kantung kemih.

Semua jenis schistosomiasis bisa mempengaruhi organ-organ lain (seperti paru-paru, tulang belakang, dan otak). Telur-telur yang mencapai paru-paru bisa mengakibatkan peradangan dan peningkatan tekanan darah di dalam arteri pada paru-paru (hipertensi pulmonari)
Morfologi Sistosoma
Morfologi Schistosoma berbeda denga Termatoda yang khas, karena bentuknya yang kecil memanjang dan jenis kelamin yang terpisah. Cacing jantan yang lebih besar dan berwarna kelabu mempunyai ujung anterior yang silindris dan badannya yang lebih kuat terlipat membentuk canalis gynaecophoris ventral panjang dan didalamnya terdapat cacing betina yang berwarna lebih tua yang langsing yang dipeluk selama kopulasi. Integymen adalah halus atau mempunyai tonjolan, tergantung daripada spesies. Usus bercabang menjadi dua coecum, yang menggabungkan diri dibagian posterior badan yang menjadi saluran tunggal yang buntu. Jumlah testis pada cacing jantan dan panjangnya uterus dan jumlah telur adalah tertentu untu masing-masing spesies. Sistem ekskresi terdiri atas sel api, saluran pengumpul, dan dua saluran panjang yang masuk menuju kandung kencing kecil dengan satu porus ekskresi di ujung. (Brown. 1979) Ukuran tubuh cacing Schistosoma jantan lebih besar tetapi lebih pendek dari pada cacing betina. Cacing jantan berukuran 9,5 – 19,5 mm x 0,9 mm (tergantung dari spesiesnya) dan cacing betina 16,0 – 26,0 mm x0,3 mm (tergantung dari spesiesnya) (Sudomo M. 2008)

Masa Inkubasi

Ketika schistosomes pertama kali memasuki kulit, ruam yang gatal bisa terjadi (gatal perenang). Sekitar 4 sampai 8 minggu kemudian (ketika cacing pita dewasa mulai meletakkan telur), demam, panas-dingin, nyeri otot, lelah, rasa tidak nyaman yang samar (malaise), mual, dan nyeri perut bisa terjadi. Batang getah bening bisa membesar untuk sementara waktu, kemudian kembali normal. kelompok gejala-gejala terakhir ini disebut demam katayama.

Gejala-gejala lain bergantung pada organ-organ yang terkena:

Jika pembuluh darah pada usus terinfeksi secara kronis : perut tidak nyaman, nyeri, dan pendarahan (terlihat pada kotoran), yang bisa mengakibatkan anemia.
Jika hati terkena dan tekanan pada pembuluh darah adalah tinggi : pembesaran hati dan limpa atau muntah darah dalam jumlah banyak.
Jika kandung kemih terinfeksi secara kronis : sangat nyeri, sering berkemih, kemih berdarah, dan meningkatnya resiko kanker kandung kemih.
Jika saluran kemih terinfeksi dengan kronis : peradangan dan akhirnya luka parut yang bisa menyumbat saluran kencing.
Jika otak atau tulang belakang terinfeksi secara kronis (jarang terjadi) : Kejang atau kelemahan otot.

Cacing dewasa yang halus, besarnya 0,6 – 2,5 cm, hidup berpasangan yang betina di dalam canalis gynaecophorus cacing jantan. Tergantung daripada spesies cacing, antara 300 (S. mansoni) sampai 3500 (S.Japonicum) telur ehari dikeluarkan ke dalam vena. Bentuk larva yaitu miracidium terbentuk di dalam telur, enzim litik dan kontraksi vena menyebabkan pecahnya dinding vena dan telur di lepaskan ke dalam jaringan perivaskular usus atau kandung kencing. Telur dapat keluar ke dalam lumen alat-alat ini dikeluarkan ke dalam tinja atau urine. Bilamana tersentuh air dingin miracidium menetas keluar dari telur dan berenang bebas menemukan keong yang sesuai, yang kemudian di tembusnya. Sesudah melelui dua tingkat perkembangan sporokista dan bertambah banyak di dalam keong, cercaria dengan ekor bercabang keluar. Sewaktu mandi, berenang, bekerja atau mencuci pakaian, kulit manusia berkontak dengan cercaria yang berenang bebas, melekatkan diri dan masuk ke dalam sampai jaringan kapiler perifer setelah airmenguap pada permukaan kulit. Bilamana tertelan dengan air cercaria menembus selaput lendir mulut dan leher. Cercaria terbawa oleh darah aferen ke jantung sebelah kanan dan paru-paru. Mereka menerobos kapiler paru-paru, terbawa ke dalam sirkulasi sistemik dan melewati sluran portal. Di dalam system vena porta bagian hepar Trematoda ini mengambil makanan dan tumbuh dengan cepat. Kira-kira 3 minggu sesudah infeksi kedalam kulit, cacing dewasa mudah berpindah berlawanan dengan darah portal masuk ke dalam vena mesenterium, kandung kencing dan panggul. Periode prepaten untuk S. mansoni adalah 7-8 minggu, S.haematobium 10-12 minggu dan S.japonicum 5-6 minggu. Cacing dewasa dapat hidup selama 30 tahun pada manusia.

Schistosomiasis adalah penyakit menular; penularannya melalui air. Mula-mula schistosomiasis menjangkiti orang melalui kulit dalam bentuk cercaria yang mempunyai ekor berbentuk seperti kulit manusia, parasit tersebut mengalami transformasi yaitu dengan cara membuang ekornya dan berubah menjadi cacing.

Selanjutnya cacing ini menembus jaringan bawah kulit dan memasuki pembuluh darah menyerbu jantung dan paru-paru untuk selanjutnya menuju hati. Di dalam hati orang yang dijangkiti, cacing-cacing tersebut menjadi dewasa dalam bentuk jantan dan betina. Pada tingkat ini, tiap cacing betina memasuki celah tubuh cacing jantan dan tinggal di dalam hati orang yang dijangkiti untuk selamanya. Pada akhirnya pasangan-pasangan cacing Schistosoma bersama-sama pindah ke tempat tujuan terakhir yakni pembuluh darah usus kecil yang merupakan tempat persembunyian bagi pasangan cacing Schistosoma sekaligus tempat bertelur.
Gambaran Penyakit
Manifestasi klinis Schistosomiasis secara umum mempunyai gejala klinis awal yang sama, misalnya gatal-gatal pada saat serkaria telah masuk ke dalam kulit, kalau serkaria yang masuk ke dalam kulit cukup banyak akan terjadi dermatitis. Kemudian pada saat larva cacing melewati paru akan terjadi batuk berdahak dan demam. Padastadium berikutnya akan terjadi gejala disentri atau urtikaria (pada infeksi S. haematobium). Schistosomiasis mansoni, japonikum dan mekongi dapat menyebabkan hepatomegali (pembengkakan hati) dan splenomegali (pembengkakan limpa). Pada penderita schistosomiasis japonikum dan mekongi yang sudah parah akan menderita asites yang diikuti dengan kematian. (Sudomo M. 2008)
Diagnosis penyakit

Wisatawan dan imigran dari daerah-daerah dimana schistosomiasis adalah sering terjadi harus ditanyakan apakah mereka telah berenang atau menyeberangi air alam. Dokter bisa memastikan diagnosa dengan meneliti contoh kotoran atau urin untuk telur-telur. Biasanya, beberapa contoh diperlukan, tes darah bisa dilakukan untuk memastikan apakah seseorang telah terinfeksi dengan schistosoma mansoni atau spesies lain, tetapi tes tersebut tidak dapat mengindikasikan seberapa berat infeksi atau seberapa lama orang tersebut telah memilikinya. Untrasonografi bisa digunakan untuk mengukur seberapa berat schistosomiasis pada saluran kemih atau hati.
Diagnosis untuk penyakit Schistosomiasis adalah dengan cara pemerikasaan tinja dan Pemeriksaan urine. Cara pemeriksaan tinja adalah Tinja yang keluar seluruhnya harus dicampur baik-baik dengan 0,5% larutan glycerin dalam air dan sesudah sedimentasi di dalam gelas runcing cairan yang terdapat di atas harus dituang. Mencampur dan menuang harus dilakukan beberapa kali sampai hanya tertinggal sisa sedikit yang diperiksa di bawah mikroskop. (Brown. 1979)
Dengan pemeriksaan urine. Urine yang dikeluarkan dalam sehari di sedimentasi dalam gelas berbentuk kerucut. Kemudian ditambahkan air sebelum dipanasi 600C untuk membunuh infusoria kedalam sediment, miracidium yang bebas berenang yang baru menetas dapat dilihat dengan cahaya tidak langsung dengan dasar hitam. Menetasnya miracidium merupakan indeks telur yang masih hidup.
Terapi

Pemberantasan schistosomiasis telah dilakukan sejak tahun 1974 dengan berbagai metoda yaitu pengobatan penderita dengan Niridazole dan pemberantasan siput penular (O. hupensis lindoensis) dengan molusisida danagroengineering.

Pemberantasan yang dilakukan dengan metodatersebut dapat menurunkan prevalensi dengansangat signifikan seperti di Desa Anca dari 74% turun menjadi 25%.

Kegiatan pemberantasan schistosomiasis secara intensif dimulai pada tahun 1982. Pemberantasan pada awalnya dititikberatkan pada kegiatan penanganan terhadap manusianya yaitu pengobatan penduduk secara masal yang ditunjang dengan kegiatan penyuluhan, pengadaan sarana kesehatan lingkungan, pemeriksaan tinja penduduk, pemeriksaan keong penular dan tikus secara berkala dan rutin. Hasil pemberantasan tersebut mampu menurunkan prevalensi schistosomiasis.
Pengobatan schistosomiasis pada dasarnya adalah :mengurangi dan mencegah kesakitan dan mengurangi sumber penular. Sebelum ditemukan obat yang efektif,berbagai jenis obat telah dipakai untuk mengobati penderita schistosomiasis, misalnya, hycanthone,niridazole, antimonials, amocanate dsb. Obat-obat tersebut tidak efektif dan beberapa sangat toksik. Pada saat ini obat yang dipakai adalah Praziquantel.
Praziquantel sangat efektif terhadap semua bentuk schistosomiasis, baik dalam fase akut, kronik maupun yang sudah mengalami splenomegali atau bahkan yang mengalami komplikasi lain. Obat tersebut sangat manjur, efek samping ringan dan hanya diperlukan satu dosis yaitu 60 mg/kg BB yang dibagi dua dan diminum dalam tenggang waktu 4-6 jam.
Berikut profil obat Praziquantel:
· Praziquantel merupakn derivate pirazino-isokuinolin.
· Obat ini merupakan antelmintik berspektrum lebar,
· Efektif terhadap cestoda dan termatoda pada hewan dan manusia
· Praziquantel berbentuk Kristal tidak berwarna dan rasanya pahit
Efek Anthelmintik
In vitro, Praziquantel diambil secara cepat dan reversible oleh cacing tapi tidak di metabolisme. Kerjanya cepat melalui 2 cara.
1. Pada kadar efektif terendah menimbulkan peningkatan aktivitas otot cacing, karena hilangnya Ca2+intrasel sehingga tumbul kontraksi dan parlisis spastik yang sifat reversible, yang mungkin mengakibatkan terlepasnya cacing dari tempatnya yang normal dari hospes.
2. Pada dosis terapi yang lebih tinggi Praziquantel mengakibatkan vakuolisasi dan vesikulasi tegument cacing sehingga isi cacing keluar, mekanisme pertahanan hospes dipacu dan terjadi kehancuran cacing.
Praziquentel efektif terhadap cacing dewasa jantan dan betina, juga efektif terhadap bentuk imatur.
Farmakokinetik
· Pada pemberian oral absorpsinya baik
· Kadar maksimal dalam darah tercapai dalam 1-3 jam
· Metabolisme obat berlangsung cepat di hati
· Waktu paro obat 0,8-1,5 jam
· Ekskresi sebagian besar melalui urin dan sisanya melalui empedu.
Konseling
Konseling yang harus di berikan kepada masyarakat luas untuk melakukan pencegahan penyakit. Sedangkan, Konselng untuk orang yang sudah terinfeksi Schistosomiasis adalah efek samping obat, kontraindikasi, cara penggunaan dan dosis obat yang tepat.
Cara-cara pencegahan
· Memberi penyuluhan kepada masyarakat di daerah endemis tentang cara cara penularan dan cara pemberantasan penyakit ini.
· Buang air besar dan buang air kecil dijamban yang saniter agar telur cacing tidak mencapai badan-badan air tawar yang mengandung keong sebagai inang antara. Pengawasan terhadap hewan yang terinfeksi S. japonicum perlu dilakukan tetapi biasanya tidak praktis.
· Memperbaiki cara-cara irigasi dan pertanian; mengurangi habitat keong dengan membersihkan badan-badan air dari vegetasi atau dengan mengeringkan dan mengalirkan air
· Memberantas tempat perindukan keong dengan moluskisida (biaya yang tersedia mungkin terbatas untuk penggunaan moluskisida ini)
· Untuk mencegah pemajanan dengan air yang terkontaminasi (contoh : gunakan sepatu bot karet). Untuk mengurangi penetrasi serkaria setelah terpajan dengan air yang terkontaminsai dalam waktu singkat atau secara tidak sengaja yaitu kulit yang basah dengan air yang diduga terinfeksi dikeringkan segera dengan handuk. Bisa juga dengan mengoleskan alkohol 70% segera pada kulit untuk membunuh serkaria.
· Persediaan air minum, air untuk mandi dan mencuci pakaian hendaknya diambil dari sumber yang bebas serkaria atau air yang sudah diberi obat untuk membunuh serkariannya. Cara yang efektif untuk membunuh serkaria yaitu air diberi iodine atau chlorine atau dengan menggunakan kertas saring. Membiarkan air selama 48 ?72 jam sebelum digunakan juga dianggap efektif.
· Obati penderita di daerah endemis dengan praziquantel untuk mencegah penyakit berlanjut dan mengurangi penularan dengan mengurangi pelepasan telur oleh cacing.
· Para wisatawan yang mengunjungi daerah endemis harus diberitahu akan risiko penularan dan cara pencegahan.
Efek Samping Obat
· Sakit kepala, Pusing
· Mengantuk, Lelah
· Mual, Muntah
· Demam
· Ocular cysticercosis
Kontraindikasi
· Wanita hamil dan menyusui
· Orang yang membutuhkan koordinasi fisik
· Ocular cysticercosis
· Pasien dengan gangguan fungsi hati memerlukan penyesuaian dosis
Posologi
· Untuk infeksi S. haematobium dan S mansoni diberikan dosis tunggal 40mg/kgBB atau dosis tunggal 20mg/kgBB tang di ulangi lagi sesudah 4-6jam
· Untuk infeksi S. japonicum diberikan dosis tunggal 3mg/kgBB yang diulangi lagi sesudah 4-6 jam.
· Praziquantel harus diminum dengan air sesudah makan dan tidak boleh di kunyah karena rasany pahit.
loading...